JAKARTA, LM – Saat Low Cost Green Car (LCGC) Ditinggalkan, mobil listrik seharga Rp199 juta justru jadi primadona baru. Pertahanan segmen LCGC rontok di 2025, mencatatkan rekor penurunan terdalam dalam tiga tahun terakhir.
Data terbaru menunjukkan bahwa segmen yang dulunya menjadi tulang punggung industri otomotif nasional ini kini sedang menghadapi masa paling kelam, terimpit di antara melemahnya daya beli masyarakat dan agresivitas mobil listrik murah.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan ritel LCGC sepanjang Januari hingga Desember 2025 hanya menyentuh angka 130.799 unit.
Jika disandingkan dengan capaian tahun 2024 yang masih sanggup menembus 178.726 unit, terjadi kontraksi volume yang sangat signifikan sebesar 27 persen. Penurunan drastis ini mengonfirmasi bahwa “bantalan” ekonomi kelas menengah bawah sedang terkoyak hebat.
Untuk memahami besarnya dampak penurunan ini, kita perlu menengok rekam jejak historis industri.
Pada 2019, LCGC berada di puncak kejayaannya dengan total distribusi mencapai 217.454 unit. Segmen ini sempat terhempas badai pandemi pada 2020, menyusut ke level terendah 104.650 unit.
Namun, daya lenting pasar terbukti kuat. Tahun 2021, penjualan perlahan merangkak naik ke 146.520 unit, disusul momentum pemulihan yang solid pada 2022 dengan angka 186.649 unit.
Tren positif ini berlanjut hingga 2023, di mana penjualan nyaris kembali menyentuh level psikologis 200 ribu, tepatnya 198.564 unit. Sayangnya, euforia itu berumur pendek.
Tren berbalik arah pada 2024 dengan penurunan 10 persen, sebelum akhirnya “terjun bebas” pada 2025, menyisakan volume penjualan yang jauh di bawah standar normal industri.
Mengapa ini terjadi? Jawabannya terletak pada profil demografi konsumen. Segmen LCGC adalah “medan perang” bagi pembeli mobil pertama (first-time buyers) yang sangat sensitif terhadap gejolak ekonomi makro.
Selain itu, segmen LCGC juga menghadapi serangan fajar dari segmen kendaraan listrik (EV). Pangsa pasar kendaraan elektrifikasi kini sudah tembus lebih dari 16 persen, memakan porsi pasar mobil konvensional dan LCGC, yang kini porsinya tergerus menjadi 83 persen.
Kehadiran pemain baru dari China juga mengubah peta permainan secara fundamental. Model seperti BYD Atto 1 yang dibanderol mulai Rp 199 juta, serta Geely EX2 dengan rentang harga kompetitif, menawarkan proposisi nilai yang sulit ditolak oleh konsumen rasional.
Dengan harga setara LCGC varian tertinggi, pembeli mobil listrik mendapatkan keistimewaan yang tidak dimiliki Agya, Ayla, Sigra, atau Calya: kebebasan dari aturan ganjil-genap.
Insentif fiskal juga menjadi pembeda. Pemilik mobil listrik menikmati pajak tahunan nol rupiah dan hanya diwajibkan membayar Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas (SWDKLLJ) sebesar Rp143.000.
Bandingkan dengan pajak progresif mobil konvensional yang terus naik. Kombinasi antara daya beli yang “babak belur” dan godaan efisiensi mobil listrik inilah yang membuat penjualan LCGC nyungsep, menandai berakhirnya era dominasi mobil murah berbahan bakar bensin di jalanan Indonesia. (ATH)
