SMKN 47 Jakarta Diduga Tidak Profesional Kelola Pembelajaran Tefa untuk Praktik  Industri unit Bisnis non BLUD

Ilustrasi.

JAKARTA, LM – Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 47 Jakarta Selatan diduga tidak profesional mengelola praktik pembelajaran Teaching Factory (Tefa) untuk simulasi industri unit bisnis non Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

Beradasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), SMKN 47 Jakarta dalam praktik pembelajaran untuk simulasi industri unit bisnis non BLUD yang mengacu pada Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta Nomor 142 tahun 2013 tentang system dan prosedur pengelolaan keuangan daerah.

Unit usaha atau produksi SMKN 47 Jakarta memiliki saldo awal per 31 Desember 2023 sebesar Rp.43.865.000, dan mempeoleh pendapatan sebesar Rp.436.818.180.

Dari pendapatan tersebut SMKN 47 Jakarta mempergunakan untuk belanja sebesar RP.435.089.735. sehingga saldo akhir per 31 Desember 2024 sebesar Rp.45.593.445, namun diketahui saldo tersebut tersimpan secara tunai oleh bendahara unit produksi (UP).

Dikonfirmasi oleh lintasmonitoring.com melalui surat pada Selasa, (3/3/2026) terkait Pembelajaran Tefa tersebut dan pengeloaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Tahun Anggaran (TA) 2024 dan 2025.

Dimana terdapat anggaran yang begitu besar terutama terkait pengembangan perpustakaan TA 2024 sebesar Rp.258.750.237 dan TA 2025 sebesar Rp.233.138.640.

Begitupula dengan pemeliharaan sarana dan prasarana Sekolah TA 2024 sebesar Rp.444.165.259 dan TA 2025 sebesar Rp.261.325.894.

Terkait dengan Pembelajaran Tefa, belum diketahui apakah SMKN 47 Jakarta sudah mengajukan sebagai BLUD dan apakah sudah mendapat penilaian memenuhi persyaratan dari tim penilai BLUD Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Provinsi DKI Jakarta.

Diketahui Program Tefa merupakan skema kolaborasi yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lulusan SMK melalui pembelajaran berbasis produksi yang melibatkan kerja sama antara SMK, dunia usaha dan industry.

Program ini dirancang untuk menciptakan lingkungan praktik yang berstandar industri, mengembangkan produk atau jasa bernilai jual, serta membekali siswa dengan keterampilan teknis (hard skills) dan non-teknis (soft skills) yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.

Sampai berita ini ditayangkan Kepala SMKN 47 Jakarta, Hasan Kuswana, belum menjawab surat konfirmasi yang dilayangkan. (YAT)

 

Pos terkait