JAKARTA, LM – Ribuan massa mahasiswa Universitas Trisakti turun ke jalan memadati kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, untuk menggelar aksi unjuk rasa pada Kamis (29/10/2026). Menyerukan Tritura atau Tiga Tuntutan kepada pemerintahan Prabowo.
Mengenakan jas almamater biru tua, massa aksi memadati Jalan Medan Merdeka Selatan sekitar pukul 15.55 WIB.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada pukul 15.30 WIB, massa mahasiswa Trisakti tiba menggunakan berbagai jenis kendaraan, mulai dari sepeda motor, puluhan angkutan kota (angkot), hingga bus.
Tiga tuntutan yang dibawa dalam aksi kali ini mencakup pemulihan ekonomi, politik, pendidikan, dan kesehatan nasional; pemberantasan pejabat negara yang inkompeten dan penghapusan rangkap jabatan; serta penegakan supremasi sipil.
Lagu-lagu perjuangan dan pekikan orasi terus terdengar untuk membakar semangat para demonstran sepanjang perjalanan.
Namun, pergerakan mahasiswa menuju titik aksi tidak berjalan mulus. Rombongan sempat mengalami tiga kali penghadangan oleh aparat. Massa aksi mula-mula tertahan saat hendak melintasi kawasan Jalan Abdul Muis, Jakarta Pusat.
Penghadangan berikutnya dialami massa saat langkah mereka terhenti di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Barikade pengamanan kembali menghentikan pergerakan rombongan mahasiswa saat berada di dekat Balai Kota DKI Jakarta.
Setelah melewati serangkaian penghadangan tersebut, massa akhirnya berhasil mencapai kawasan Patung Kuda untuk menyuarakan tuntutan mereka.
Dalam aksi tersebut, massa menyuarakan kekecewaannya terhadap kinerja pemerintah yang dinilai gagal dalam menanggulangi berbagai persoalan, khususnya terkait penanganan bencana alam di sejumlah daerah.
Wakil Presiden Mahasiswa Universitas Trisakti, Muhammad Adryansyah Putra, melontarkan kritik pedas saat berorasi di atas mobil komando di hadapan ratusan massa aksi.

Adryansyah menegaskan, gerakan mahasiswa kali ini bukan lagi sekadar memberikan evaluasi berkala, melainkan sudah masuk pada tahap ultimatum keras kepada jajaran pemerintah.
“Untuk sekarang, teman-teman, ini bukan lagi jadi evaluasi. Bukan lagi kita evaluasi mereka, tapi ini adalah bentuk ultimatum kita kepada mereka!” teriak Adryansyah lantang dari atas mobil komando, Kamis (28/10/2026).
Adryansyah menyoroti penanganan pascabencana di berbagai wilayah seperti Kalimantan, Papua, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga Aceh yang dinilainya amat lambat dan belum menyentuh kebutuhan mendasar warga terdampak.
Berdasarkan temuan pihaknya saat turun langsung ke lapangan, pemulihan pascabencana masih sangat jauh dari kata memadai.
“Kami kemarin dapat kesempatan untuk langsung datang ke NTT, kami langsung dapat kesempatan untuk datang ke lokasi bencana di Aceh.
Di sana kita saksikan bagaimana pemulihan bencana itu memang tidak ada dari pemerintah,” kata Adryansyah.
“Setelah satu bulan lamanya, di Aceh tidak ada pulih. Kami di sana menyaksikan bagaimana orang untuk mendapatkan akses kesehatan saja tidak bisa,” lanjutnya.
Ia pun menyayangkan klaim pemerintah yang menyebut proses pemulihan berjalan lancar dan kondisi daerah terdampak telah membaik.
Menurutnya, pernyataan tersebut sangat berbanding terbalik dengan fakta di masyarakat.
“Dengan entengnya pemerintah sekarang katakan bahwasanya semua daerah sekarang sudah pulih. Data yang mana yang mereka saksikan?” tegasnya.
Atas kondisi tersebut, mahasiswa membawa tiga tuntutan rakyat (Tritura) yang ditujukan langsung kepada Presiden.
Dia menilai pemimpin negara saat ini terkesan menutup mata dan telinga terhadap jeritan masyarakat bawah.
Adryansyah mengingatkan jajaran pejabat pemerintah sebagai pembantu yang bertugas melayani dan mengayomi masyarakat.
“Pemerintah adalah pembantu masyarakat. Jika pembantunya sudah nyeleweng, kita harus ingatkan. Bila perlu kita pecat pembantunya!” ujar Adryansyah yang disambut riuh sorak persetujuan dari peserta aksi. (BUD)










