JAKARTA, LM – Wali Kota Jakarta Timur, Munjirin, meninjau langsung pelaksanaan Try Out Kartu Jakarta Pintar (KJP) Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Naiju bagi siswa penerima KJP, di Kantor Yayasan Indonesia Pintar Berkeadilan Sosial, Jalan Kayu Putih VII, Kelurahan Pulogadung, Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur, Selasa (7/4/2026).
Program ini merupakan tahap lanjutan dari rangkaian try out gratis yang sebelumnya digelar Pemkot Jakarta Timur bersama Naiju sebanyak 5 kali.
Melalui program intensif tersebut, puluhan siswa kelas 12 dari keluarga kurang mampu dipersiapkan secara khusus untuk menembus Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
Menurut Munjirin, program intensif ini menjadi bentuk komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan akses pendidikan tinggi bagi siswa penerima KJP. Dia berharap seluruh peserta yang mengikuti program dapat diterima di perguruan tinggi negeri.
Sesuai rencana para peraih nilai tertinggi dalam try out KJP akan mendapatkan pembinaan intensif untuk menembus Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Program bimbingan persiapan UTBK ini akan berlangsung selama 21 hari dan diikuti 30 siswa terpilih dari berbagai SMA Negeri di Jakarta Timur.
“Jadi yang sudah masuk di jalur undangan 15, kemudian melalu program ini menjadi 30 anak, mudah-mudahan semuanya bisa masuk ke perguruan tinggi negeri. Dan mudah-mudahan kami berharap program ini bisa berlanjut untuk tahun berikutnya dan syukur-syukur bisa menjadi satu kebijakan di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta,” ujarnya.
Kedepannya, Pemerintah Kota Jakarta Timur berharap program try out dan intensif UTBK ini dapat berlanjut setiap tahun dan bahkan menjadi kebijakan resmi Pemprov Jakarta melalui penganggaran dalam APBD.
Sementara itu, Pembina Yayasan Indonesia Pintar Berkeadilan Sosial Taufik Rendusara yang akrab disapa Tope menuturkan keberhasilan masuk PTN tidak semata-mata ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh proses pembinaan yang berkelanjutan.
“Pada prinsipnya kita ingin menyampaikan bahwa diterima di perguruan tinggi negeri favorit itu bukan karena pintar, tapi karena memang kemampuan dirinya diasah, diasih, dan diasuh dengan baik,” ungkapnya.
Program intensif tersebut diberikan secara gratis kepada seluruh peserta, termasuk kebutuhan makan, transportasi, hingga biaya pendaftaran perguruan tinggi bagi siswa yang dinyatakan lulus seleksi.
”Program ini free 100 persen, Naiju yang bertanggung jawab biayanya. Makan, minum, transport, sampai nanti biaya pendaftaran bagi mereka yang keterima, insyaallah akan kami tanggung. Awalnya kita memang 20 peserta, tapi karena banyak guru yang menghubungi dan antusiasme murid sangat tinggi akhirnya kuota ditambah menjadi 30. Kami optimis 30 peserta ini bisa diterima di perguruan tinggi negeri,” pungkas Tope. (SWD)










