JAKARTA, LM – Film horor terbaru berjudul “Malam 3 Yasinan”, yang mengangkat kisah teror supranatural di tengah keluarga besar kaya raya yang menyimpan rahasia kelam, diproduksi oleh Helroad Films bersama Alkimia Production.
Cerita berfokus pada keluarga Djoyodiredjo yang mulai dihantui kejadian-kejadian aneh sejak rangkaian yasinan kematian dilakukan secara berturut-turut.
Dalam alurnya, film ini tidak hanya menonjolkan kengerian, tetapi juga membangun konflik batin dan trauma masa lalu yang perlahan terkuak seiring teror di rumah keluarga tersebut makin meningkat.
Film ini sebagian besar fokus pada keluarga Djoyodirejo, keluarga kaya dan terhormat pemilik sebuah pabrik gula. Keluarga ini hanya memiliki dua anak, Ari (diperankan oleh Baim Wong) dan Lili.
Ari yang memiliki dua istri, Lana dan Layla. Layla yang diperankan oleh Wulan Guritno memiliki anak bernama Sena. Sedangkan Lana memiliki anak kembar perempuan, Sara dan Samira yang sama-sama diperankan oleh Shalom Razade.
Ketika Sara mendadak meninggal dunia karena jatuh dari pabrik, Samira yang tak lagi tinggal di rumah keluarganya pulang. Awalnya dianggap sebagai sebuah kecelakaan biasa, namun mulai muncul kejanggalan-kejanggalan yang meneror semua anggota keluarga tersebut.
Hamish Daud berperan sebagai Baskara, seorang perwira polisi yang terseret dalam pusaran konflik keluarga sekaligus kejadian mistis. Karakter Baskara digambarkan berada di persimpangan antara tanggung jawab profesional dan keterlibatan emosionalnya dengan keluarga yang dilanda teror.
Film “Malam 3 Yasinan” disutradarai Yannie Sukarya, dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 8 Januari 2026.
Berawal dari mimpi sang sutradara
Film “Malam 3 Yasinan”, ternyata naskahnya diangkat dari mimpi sang sutradara, Yanie Sukarya. Ia bermimpi berada di sebuah ruangan yang dipenuhi dengan orang-orang yang sedang membaca doa. Namun ia melihat satu perempuan yang hanya diam dan terlihat menyeramkan.
Film ini berpusat pada budaya yasinan atau acara untuk mendoakan orang-orang yang telah meninggal. Acara ini biasanya diselenggarakan oleh keluarga dari pihak yang meninggal dan mengundang orang-orang atau tetangga terdekat untuk mendoakan mereka yang meninggal tersebut.
Yanie menggambarkan anggapan bahwa roh seseorang yang telah meninggalkan akan menghampiri rumah mereka kembali tiga hari setelah mereka dikuburkan. Ia bahkan membangun kejadian aneh dan horor pada malam pertama dan kedua acara Yasinan dilakukan. Hingga pada akhirnya malam ketiga bertindak sebagai puncak kejadian mistis yang dialami oleh keluarga Layla.
Melalui tema tersebut, Yanie menghadirkan sebuah film horor yang mengangkat obsesi manusia untuk mendapatkan kesempurnaan, termasuk harga diri dan nama baik keluarga, atau “Mikul dhuwur mendhem jero” yang jadi inti dari keseluruhan film. Ungkapan dari kebudayaan Jawa yang menegaskan bahwa aib keluarga harus disimpan sampai mati. (WAN)










